By A Web Design

SAJIAN ISI

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat

Joko Prihatno: Wisata Alam  Jabar  Sangat Potensial
Joko Prihatno- Wisata Alam  Jabar Sangat PotensialSeparuh  dari  sekitar  110  objek  wisata  alam di kawasan Jawa  Barat kini  belum dikembangkan  optimal. Tak hanya dunia usaha, masyarakatkan pun diajak untuk mengembangkannya.

Masih banyak potensi wisata alam Jawa Barat yang kini menantikan polesan dunia usaha dan masyarakat.  Dari sekitar  110  objek  mungkin, kurang dari separuh yang sudah memberikan nilai  tambah. Lainnya, masih berupa “onggokan” bak perawan desa menanti juragan kota.

Mungkin lantaran  itu, Joko Prihatno menggagas pertemuan di  Bandung, pertengahan pekan kedua, September kemarin.  Dalam kapasitasnya sebagai Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa  Barat, dia mengundang  tak kurang dari 100  orang yang selama  ini terlibat dalam pengelolaan kawasan hutan dan objek wisata di Jawa Barat. Bertempat di  sebuah hotel di kawasan Sukajadi  Bandung, dia  menggelar pertemuan sehari, khusus membahas pemanfaatan  potensi kawasan hutan Jawa Barat sebagai objek wisata.


 “ Kita ingin bertukar pikiran menggali potensi yang besar ini hingga bisa dikembangkan sebagai potensi ekonomi yang lebih bermanfaat,” tandasnya.  “ Kita  berbagi informasi terkait dengan kepariwisataan alam, agar terbangun suatu  sinergi bidang kepariwisataan alam, antara pelaku usaha, masyarakat, dan pemerintah,”tambah Joko.

Jadi tak usah heran bila hari  itu, ada sejumlah Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten, seperti  reuni di dalam kegiatan  itu. Tidak hanya mereka, Imam Santoso, Kepala Balai Pengelola Tahura, pun tampak. Begitu juga dengan Lis Bahunta dari Biro Ekowisata Perum Perhutani Unit III. Selain pengusaha pengelola sejumlah  objek wisata, termasuk pengusaha  travell.

Bagi  Joko  Prihatno,  “mendagangkan”  potensi wisata  alam Jawa Barat  tidak terlampau sulit. Ini mengingat hampir sebagian besar masyarakat bisnis nasional, sangat mengetahui, betapa  sejuk, nyaman dan indah alam Jawa Barat. Dan ini merupakan modal dasar yang dapat dijadikan keunggulan komperatif  di banding daerah  lain, dalam menjaring wisatawan.

Pemerintah pusat, dalam  kaitan ini Kementerian Kehutanan, sangat mendukung strategi  pengembangan wisata alam  ini. Berbagai kebijakan memang sudah dilangsir pemerintah yang hampir semua kebijakan itu  memberikan kemudahan bagi calon-calon investor yang hendak mengembangkan usahanya di bidang wisata alam.  Joko menyebut, Peraturan Pemerintah No 36 tahun  2010 yang kemudian dijabarkan dalam Peraturan Menteri Kehutanan No. 48 tahun  2011.

Dalam kebijakan  ini, pemerintah memberikan kemudahan dalam  proses perijinan – bila sebelumnya dalam proses  mendapatkan  ijin ini, perlu disyaratkan adanya Analisasi dampak Lingkungan atau Amdal, kini cukup  UKL -  UPL.  Waktu pengelolaannya pun  lebih lama, mencapai  55  tahun.  Dan dalam persetujuan prinsif cukup ditanda-tangani oleh Dirjen, tidak harus menteri.
Satu hal yang tak kalah pentingnya, dalam hal rekomendasi daerah.  Bila dalam kurun 30 hari sejak permohonan rekomendasi itu diajukan, tapi belum keluar, maka kementerian Kehutanan mengangap daerah telah memberikan rekomendasi.  “ Semua kebijakan ini  telah dituangkan dalam tata cara  ijin pengusahaan pariwisata  Alam di  Taman Nasional, Taman Wisata Alam, dan Suaka Margasatwa, serta Taman  Hutan  Rakyat, ”jelas Joko lagi.

Dan kebijakan tersebut, lanjutnya, melengkapi rencana pengelolaan, bocking dan design tapak sebagai acuan dalam pemberian rekomendasi izin usaha sarana pariwisata alam.  Lalu, semua dimaksudkan, mendorong percepatan  peningkatan ekonomi masyarakat di sekitar hutan, melalui pemberikan fasilitas kepada pemegang Izin Pengelolaan Pariwisata  Alam – IPPA.
Dalam  upaya  inipun, pemerintah  juga telah menjalin kerjasama dengan sejumlah   perusahaan yang selama ini telah memfaatkan kawasan hutan untuk kegiatan pertambangan. Sebut saja misalnya dengan Chevron dan Pertamina untuk membangun sarana publik sebagai penunjang kegiatan kepariwisataan.

Imam Santoso  dari   Kepala Balai Pengelola Taman  Hutan  Rakyat , menyebutkan,  dari sekitar 110 kawasan hutan yang berpotensi dijadikan  objek wisata alam di Jawa Barat,  ada sekitar  61 lokasi  berupa wisata alam hutan, dan 13 lokasi diantaranya, berstatus sebagai Taman  Wisata  Alam, 3 berupa Taman Nasional, dan 39 lokasi wana wisata yang dikembangkan di 3 lokasi  Tahura.
“ Berbagai potensi wisata alam yang sudah dikembangkan ini, kini telah memberikan nilai ekonomi  kepada negara, yang nilainya selama tahun  2011 mencapai  Rp  26 miliar,” jelas  Imam Santoso. Wisatawan  yang  datangpun  relatif ramai  mencapai  3 juta orang.  “ Sebetulnya potensi ekonomi  yang masih bisa digali, jauh lebih besar lagi dari angka  itu, karenanya kita sepakat untuk mengembangkannya  hingga mendapatkan perolehan yang optimal.”

“ Khusus Perhutani, dalam strategi pengembangan wisata  alam, kini telah memiliki  master plan wisata 2009-2014, business plan 2010-2014, dan  marketing plan 2011-2012,”kata  Lies  Bahunta.  “Dan semua master pland itu, mengacu pada kebutuhan customer  yang didasarkan pada  hasil survey kepuasan pelanggan, dan standar mutu obyek wisata,” tambah  Kepala Biro  Ekowisata, Jasa Lingkungan dan Usaha lain, Perum Perhutani  Unit  III, Jawa Barat itu.

Dengan  sejumlah perencanaan dan strategi pengembangan kawasan wisata alam yang dibuat itu, manajemen Perhutani  telah mentargetkan,  keuntungan yang cukup besar pada  tahun  2014 mendatang.  “ Kita berharap bisa mencapai   Rp 200 miliar peroleh  dari  eko wisata  Perhutan  Unit III ini,” kata Lies lagi. ***HAN

By A Web Design

GAPKI : Indonesian Palm Oil Association

Redaksi

Gedung SQUASH Manggala Wanabakti
Jl. Gatot Subroto Jakarta Telp. (021) 97959584,
(021) 5703246 EXT.5244 FAX: (021) 5705092
EMAIL: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. (Bag. Iklan)

UA-39363824-2 (UA-39363824-2)